Seni & Hiburan, Sastra
Analisis terperinci tentang puisi Gumilev "The Sixth Sense"
Salah satu puisi terbaik NS. Gumilev - "The Sixth Sense." Untuk memahami apa yang ingin penulis sampaikan ke dunia pembaca, analisis puisi Gumilev harus dilakukan. "Indra keenam" ditulis pada tahun kematian sang penyair. Inilah puisi terakhirnya, yang termasuk dalam koleksi "Pilar Api." Koleksi itu sendiri berbeda secara signifikan dari karya sebelumnya - inilah puisi bukan anak muda, yang melayang di awan, tapi karya ditulis oleh orang dewasa.
Analisis puisi Gumilev telah menunjukkan bahwa gagasan utama "Sixth Sense" adalah keinginan untuk merasa cantik. Saat ini, orang kehilangan spiritualitas, dan puisi ini langsung dijiwai dengan itu. Ini panggilan untuk merasakan keindahan, kemegahan yang mengelilingi kita. Setelah membaca puisi itu, Anda dapat dengan tajam merasakan keinginan akan anugerah dan pesona alam. Inilah indra keenam, tentang apa yang penulis tulis: untuk memahami dan merasakan yang indah, tidak diberikan kepada kita sejak lahir, namun mampu dilahirkan dalam siksaan.
Analisis puisi Gumilev "The Sixth Sense" mengungkapkan dua tema utama dari karya ini: mimpi penyair tentang supremasi keindahan dan pandangan filosofis tentang kemanusiaan secara keseluruhan. Gumilev menghargai hidup dan berterima kasih padanya setiap saat dia tinggal dan kesempatan untuk menikmati keinginan alami. Hal ini diungkapkan dengan baik di awal puisi. Ini dimulai dengan perlahan, santai - menggambarkan kesenangan duniawi (bait pertama).
Ini menunjukkan perasaan utama, sumber emosi yang menyenangkan - untuk makan, minum, menikmati cinta ("anggur", "roti", "wanita"). Dan di bait kedua, penulis mengajukan pertanyaan kepada dirinya sendiri: "Apakah ini yang dibutuhkan seseorang? Sungguh, hanya rendah, keinginan bawaan adalah apa yang semua orang butuhkan? " Dia tidak membenci kebutuhan "dasar" orang, tapi meragukan bahwa seseorang cukup memahami hal ini.
Analisis puisi Gumilev membuat kita berpikir tentang bagaimana berhubungan dengan fakta bahwa kita tidak bisa "tidak makan, atau minum atau mencium"? Mengapa kita membutuhkan "fajar merah muda" dan "surga yang dingin", jika kita tidak memiliki keinginan untuk memahami keindahan ini? Mengapa "puisi abadi", yang mana kita tidak bisa menghargai perasaan rendah kita?
Hidup kita terburu-buru ("Saatnya berjalan tak terkendali"), dan kita mencoba untuk menunda momen dan menikmati keindahannya, tapi kita tidak bisa ("mematahkan tangan kita" dan "dikutuk untuk pergi dengan").
Analisis puisi Gumilev menunjukkan bahwa perasaan baru bisa terbuka di pembaca, seperti anak laki-laki yang telah melupakan permainannya.
... Dan, tidak tahu apa-apa tentang cinta,
Semua sama disiksa oleh keinginan misterius ...
Dia merasakan ekstasi dari apa yang dilihatnya, "rasa keindahan" terbangun di dalam dirinya. Dan di bait ke-5, penulis juga menunjukkan bahwa sangat sulit untuk bangun di dalam diri sendiri.
Dan bait terakhir menunjukkan bahwa segala sesuatu yang tinggi dan menakjubkan disertai rasa sakit, seolah-olah seseorang seharusnya layak mendapatkan kemampuan untuk merasakan kemegahan alam.
Segera setelah menulis "Sixth Sense" Gumilev terbunuh.
Similar articles
Trending Now